Saturday, February 10, 2018

Aspek-aspek Psikologis yang Mempengaruhi Performa Altet Bola Basket

1. Pendahuluan
Olahraga merupakan salah satu wadah untuk berprestasi dan mengharumkan nama negara. Olahraga dizaman modern saat ini telah berkembang menjadi industri yang tentunya menuntut suatu prestasi maksimal. Tidak mudah untuk meraih suatu prestasi olahraga, diperlukan pembinaan yang baik dan benar agar mampu menghasilkan altet-atlet yang bisa mengukir prestasi di dunia internasional. Prestasi atlet dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam( internal) dan bisa datang dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi: kondisi fisik, teknik, taktik, dan askpek psikologi. Sementara faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi atlet yang berasal dari luar atlet itu sendiri seperti sarana da prasarana, pelatih, pembina, guru olaharaga, keluarga, dana, organisasi, iklim, cuaca, makanan yang bergizi dan lain sebagainya (Syafruddin, 1999).
Menurut Alderman dalam Sudibyo Seyobroto (1993) menyatakan bahwa penampilan atlet dapat ditinjau dari empat dimensi yaitu :1). Dimensi kesegaran jasmani meliputi antara lain daya tahan, daya ledak, kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan, reaksi, keseimbangan, ketepatan, dan sebagainya. 2). Dimensi keterampilan meliputi antara lain: kinestetika, kecakapan berolahraga tertentu, koordinasi gerak, dan sebagainya. 3). Dimensi bakat pembawaan fisik meliputi antara lain: keaadan fisik, tinggi badan, berat badan, bentuk badan, dan sebagainya. 4). Dimensi psikologik meliputi: motivasi, percaya diri, agresivitas, disiplin, kecemasan, intelegensi, keberanian, bakat, kecerdasan, emosi, perhatian, kemauan, dan sebagainya.  
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan psikilogi merupakan salah satu faktor internal yang mempengatuhi atlet meraih prestasi. Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan faktor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya (Utama, B. 2000).
Salah satu olahraga yang populer dimasyarakat adalah bolabasket. Bolabasket merupakan olahraga permainan yang menggunakan bola besar, dimainkan dengan tangan. Bola boleh di oper (di lempar ke teman), boleh dipantulkan ke lantai( di tempat atau sambil berjalan) dan tujuannya adalah memasukkan bola ke keranjang lawan. Permainan dilakukan oleh dua regu masing-masing terdiri dari lima pemain setiap regu berusaha memasukan bola ke keranjang lawan dan menjaga keranjangnya kemasukan sedikit mungkin (Soedikun I, 1992). Sama seperti cabang olahraga lainnya, bola basket juga melibatkan aspek psikologis bagi atlet untuk mencapai suatu prestasi optimal.  Dalam permainan bola basket aspek psikologi bukan hanya sebagai peran pendukung akan tetapi telah menjadi bagian dari permainan tersebut.
Permainan bola basket menuntut para pemain untuk melakukan kerjasama yang baik, selain itu setiap pemain juga harus memiliki keterampilan permainan bola basket seperti ball handling, dribbling, passing, shoting dan rebound. Kondisi fisik seperti kecepatan, kelincahan, dayatahan, kekuatan juga sangat diperlukan bagi altet bola basket untuk berprestasi (Fardi A, 1999). Namun terkadang akibat psikologi yang kurang baik saat bertanding seperti katika atlet mengalami kecemasan yang berlebihan maka semua aspek-aspek yang telah dipersiapkan sebelumnya akan menjadi sia-sia. Performa atlet menjadi tidak optimal dan prestasi pun tidak dapat diraih. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk menulis makalah tentang aspek-aspek psikologis yang berperan dalam peforma olahraga bola basket.

2.  Pembahasan
A.    Psikologi Olahraga
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri. Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. (Utama, B. 2000).  
Aspek psikis merupakan bagian dari pembinaan atlet untuk meraih prestasi tinggi  sehingga perlu adanya kajian khusus mengenai hal tersebut yaitu psikologi olahraga. Psikologi olahraga merupakan bagian dari psikologi umum yang membantu mencetak atlet dari pemula menjadi juara atau memperlihatkan prestasinya, dan membantu atlet berbakat untuk mampu mengaktualisasikan bakatnya dalam prestasi puncak. Psikologi Olahraga diartikan sebagai sikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga meliputi baik langsung terhadap atlet sebagai pribadi atau dalam tim maupun faktor- faktor di luar atlet yang berpengaruh terhadap kepribadian dan penampilan atlet (Singgih DG, 1989)
Cox, R.H. (1986) mengemukakan bahwa Sport Psychology is a science in which the principles of psychology are applied in a sport setting”. Jadi, Psikologi Olahraga pada hakikatnya adalah psikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga, meliputi faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap atlet dan faktor-faktor di luar atlet yang dapat mempengaruhi penampilan (performance) atlet terse- but. Weinberg, R.S. & Gould, D. (1995) mengemukakan bahwa “Sport and exercise psychology is the scientific study of people and their behavior in sport and exercise context”. Dua bidang kegiatannya yang besar adalah 1) mempelajari bagaimana faktor psikologis mempengaruhi penampilan fisik seseorang, 2) memahami bagaimana keterlibatan seseorang dalam olahraga mempengaruhi perkembangan psikis, kesehatan, dan kesejahteraan psikisnya.
Apabila dihubungkan dengan olahraga, khususnya olahraga prestasi, pengertian ini jelas menunjukkan bahwa penampilan (performance) seorang atlet dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis. Baik pengaruhnya positif dalam arti penampilan menjadi baik, maupun negatif dalam arti penampilan menjadi buruk. Ini adalah faktor psikologis, yang sering kali disebut faktor psikis atau faktor mental. Pengaruh faktor psikis tersebut dapat bersifat langsung, misalnya karena ada ketegangan emosi yang berlebihan sehingga mempengaruhi seluruh penampilan atlet. Ada pula faktor psikis yang tidak secara langsung berkaitan dengan penampilan atlet, atau yang disebut dengan faktor non-teknis. Contohnya, sebelum masuk ke arena pertandingan, seorang atlet mendapat telepon dari pacarnya, kemudian terjadi pertengkaran yang menegangkan aspek emosinya. Saat bertanding, kondisi emosinya yang bergejolak tersebut akan berpengaruh negative terhadap penampilannya. Contoh lainnya adalah penggunaan peralatan yang diperlukan untuk bertanding, seperti sepatu, kacamata atau contact lens, yang tidak nyaman. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi penampilannya.Lingkungan tempat atlet bertanding seperti kondisi lapangan ataupun penonton juga dapat mempengaruhi kondisi psikis atlet, baik secara positif maupun secara negatif.

B.     Peranan Psikologi Olahraga
Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya (Utama, B. 2000).
Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga,
khususnya dalam pengendalian stress.  Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan dengan bantuan psikometri.
Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis
yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut (http://infoplusplus.wordpress.com).

C.    Aspek-aspek Psikologis yang Mempengaruhi Performa Atlet
Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet
tersebut bertanding. Bola basket merupakan olahraga yang tergolong aerobik dan memiliki waktu yang relatif cukup lama. Pertandingan selama 4 x 10 menit yang dilakukan oleh atlet bola basket tidak hanya akan menguras kondisi fisik atlet akan tetapi juga akan melibatkan aspek-aspek psikologis dalam menentukan performa atlet tersebut. Berikut akan diuraikan beberapa aspek psikologis yang berperan mempengaruhi peforma atlet bola basket.

1.      Motivasi
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu. Motivasi merupakan proses aktualisasi sumber penggerak dan pendorong tingkah laku individu memenuhi kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi olahraga diartikan keseluruha daya penggerak (motif- motif) di dalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki (Singgih DG,1989).
Motivasi olahraga dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan eksrinsik. Motivasi intrinsic merupakan dorongan yang kuat dari dalam yang menyebabkan individu berpartisipasi. Atlet yang mempunyai motivasi intrinsik biasanya mempunyai kepribadian yang matang, jujur, sportif, tekun, percaya diri, disiplin dan tahan lama. Motivasi intrinsik inilah yang harus selalu ditumbuh kembangkan dalam diri anak, sayangnya motivasi ini sulit dipelajari.  Sedang motivasi ekstrinsik merupakan dorongan berasal dari luar individu yang  menyebabkan seseorang berpartisipasi.dalam olahraga. Dorongan ini dapat berasal dari pelatih, teman, orang tua, guru, kelompok, bangsa, hadiah, bonus, uang, dsb (Utama, B. 2000).
Motivasi yang baik tidak mendasarkan dorongannya pada faktor ekstrinsik seperti hadiah atau penghargaan dalam bentuk materi. Akan tetapi motivasi yang baik, kuat, dan lebih lama menetap adalah faktor intrinsik yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih mengutamakan prestasi untuk mencapai kepuasan diri daripada hal-hal yang material. Olahraga bola basket memerlukan motivasi yang kuat pada atlet, dengan motivasi yang tinggi maka pemain dapat bermain dengan penuh semangat dan menampilkan performa terbaik yang dimilikinya dan menjauhi rasa takut.
2.      Kepercayaan Diri
Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.
Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Syarat untuk untuk membangun kepercayaan diri adalah sikap positif. Beritahu pemain di mana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Buatkan program latihan untuk setiap atlet dan bantu mereka untuk memasang target sesuai dengan kemampuannya agar target dapat tercapai jika latihan dilakukan dengan usaha keras. Berikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet. Ingat, kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri. Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus walaupun kalah. Jika pemain mengalami kekalahan apalagi tidak dengan bermain baik, hadapkan mereka pada kenyataan objektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya.
Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan. Dalam permainan bola basket yang relatif lama sangat dimungkinkan atlet melakukan banyak kesalahan, pelatih sebaiknya memberikan intruksi dengan sangat hati-hati karena cara pelatih memberikan intruksi tentunya akan mempengaruhi kepercayaan diri atlet (http://infoplusplus.wordpress.com).
3.      Kecemasan dan Ketegangan
Kecemasan biasanya diawali adanya  rasa takut yang berlebihan dari dalam diri dalam menghadapi sesuatu. Respon  respon terhadap rasa takut ini lah yang menimbulkan perasaan kecemasan. Kecemasan yang berlebihan tentunya akan menyebabkan atlet menampilkan performa yang tidak baik. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal (Cox RH, 1986).
Setiap atlet pasti pernah mengalami ketegang/kecemasan pada saat menjelang atau saat pertandingan/perlombaan. Ketegangan/kecemasan berpengaruh langsung terhadap penampilan berolahraga. Sumber ketegangan/kecemasan berasal dari dalam diri atlet dan dari luar atlet. Beberapa contoh ketegangan/kecemasan dari dalam antara lain : mengandalkan kemampuan teknik saja, puas diri, berfikir negatif. Sedang ketegangan/kecemasan dari luar antara lain adanya stimulus yang membingungkan, penonton, pelatih, orangtua, beda kelas, dan sebaginya (Sudibyo S, 1993).
Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Cara mengatasi ketegangan/kecemasan melalui teknik intervensi, mencari sumbernya, pembiasaan, dan teknik khusus. Teknik intervensi dimaksudkan pelatih dalam usahanya mengurangi/menghilangkan ketegangan/kecemasan langsung bertindak kepada atletnya melalui instruksi mengenai pemusatan perhatian, pengaturan pernafasan, relaksasi otot-otot secara progresif. Teknik pembiasaan untuk permasalahan yang biasanya dijumpai dalam pertandingan disajikan dalam latihan. Tenknik khusus seperti melalui musik juga dapat menjadi alternative (Utama, B. 2000).
4.      Emosi
Emosi merupakan gejala kejiwaan yang muncul karena adanya persepsi seseorang terhadap sesuatu hal yang mempengaruhi perilaku manusia. Faktor-faktor emosi dalam diri atlet meliputi sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri (Sudibyo S, 1993).
Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. Yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya. Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal (http://Infoplusplus
.wordpress. com).  
Kejadian-kajadian saat pertandingan bola basket tentunya perlu dihadapai dengan emosi yang baik oleh para atlet. Benturan dan kontak fisik tak dapat dihindari oleh setiap atlet, oleh karena itu setiap tindakan harus dapat dikendalikan oleh atlet. Dengan mengendalikan emosi saat bertanding tentunya akan membuat atlet menjadi lebih tenang dan dapat menampilkan performa terbaik dalam pertandingan. 
5.      Agresivitas
Agresi adalah suatu tindakan yang merugikan atau melukai orang lain dan suatu tindakan yang mempunyai arti semangat  yang dapat mencapai sebuah kemenangan atau prestasi. Beberapa contoh dalam cabang olahraga yang bermotivasi semangat seperti pemain belakang dalam sepakbola akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan pemain depan lawan dengan cara menyikut maupun kontak fisik pada saat akan melakukan rebound (Utama, B. 2000).
Di dalam olahraga dikenal adanya dua jenis tindakan agresi yaitu tindakan agresi kerena frustasi dan tindakan agresi bukan karena frustasi. Tindakan agresi karena frustasi biasanya tindakan yang dilakukan disertai dengan rasa marah dan ingin mencelakai atau melukai orang lain, yang biasanya juga disebut dengan istilah hostile aggression. Sedangkan tindakan agresi yang bukan karena frustasi (instrumental aggrasuon) ada bermacam-macam seperti beberapa diantaranya adalah tindakan agresif karena meniru, tindakan agresif karena perintah dan tindakan agresif karena pengaruh kelompok (http://yuki24.wordpress.com).
Kekerasan biasanya diperoleh dari kondisi dalam lingkungan sosial. Frustasi yang diakibatkan oleh kegagalan tim dapat membawa pada kekersan penggemar. Persoalan ini dapat terlihat dengan nyata apabila pelatih menanggapi kegagalan tersebut dengan emosi yang tidak terkendali dan serangan dengan kata-kata pada offisial atau lawan. Dalam keadaan seperti ini pelatih dapat disadari dengan mudah menghasut masa untuk bertindak kekerasan. Oleh karena itu pelatih harus benar-benarr berbuat secara tepat. Demikian juga, olahragawan harus tahu bahwa mereka menghadapi hukuman yang keras dan langsung atas tindaka perkelahian dan kekerasan liannya. Sekali ditetapkan, peraturan tersebut haruslah dipegang teguh (http://yuki24.wordpress.com).
6.      Intelegensi
Kualitas gerak salah satunya dipengaruhi oleh faktor intelegensi/kecerdasan. Intelegensi diartikan kemampuan umum individu untuk bertindak secara terarah. Berfikir secara rasional serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara efektif. Dalam olahraga bola basket yang dibutuhkan adalah intelegensi praktis dalam arti mampu bertidak cepat,tepat, banyak inisiatif, dan kreatif.
 Fungsi intelegensi antara lain untuk menyusun strategi bertanding dan taktik bertanding, melalui pertimbangan kelemahan dan kelebihan lawan maupun diri sendiri.Aspek intelegensi dapat berkembang melalui pendidikan formal yaitu di sekolah- sekolah, maupun pendidikan non formal dimasyarakat melalui diskusidiskusi,kursus- kursus, membaca, diskusi, menonton, latihan- latihan kognisi. Dengan intelegensi yang baik atlet juga mampu mengerti taktik dan strategi yang diberikan oleh pelatih dan menerapkannya sewaktu bermain (Utama, B. 2000).
7.      Kosentrasi
Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah. Dalam olahraga bola basket masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan dan tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan, sehingga atlet akhimya kebingungan, tidak tahu harus bermain bagaimana dan pasti kepercayan dirinya pun akan berkurang. Untuk menghindari keadaan tersebut, perlu dilakukan latihan berkonsentrasi (http://infoplusplus.wordpress.com).

3. Kesimpulan
Psikologi Olahraga diartikan sebagai psikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga meliputi baik langsung terhadap atlet sebagai pribadi atau dalam tim maupun faktor- faktor di luar atlet yang berpengaruh terhadap kepribadian dan penampilan atlet. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya. Sama seperti cabang olahraga lainnya, bola basket juga melibatkan aspek psikologis bagi atlet untuk mencapai suatu prestasi optimal.  Dalam permainan bola basket aspek psikologi bukan hanya sebagai peran pendukung akan tetapi telah menjadi bagian dari permainan tersebut
faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet
tersebut bertanding. Bola basket merupakan olahraga yang tergolong aerobik dan memiliki waktu yang relatif cukup lama. Pertandingan selama 4 x 10 menit yang dilakukan oleh atlet bola basket tidak hanya akan menguras kondisi fisik atlet akan tetapi juga akan melibatkan aspek-aspek psikologis dalam menentukan performa atlet tersebut. Beberapa askpek psikologis yang mempengaruhi performa atlet basket diantaranya: motivasi, kepercayaan diri, kecemasan dan ketegangan, emosi, agresivitas, intelegensi dan konsentrasi. Untuk mencapai  prestasi optimal atlet dan pelatih sebaiknya juga memperhatikan aspek-aspek psikologis tersebut.
4. Daftar Pustaka

Cox, Richard H, 1986. Sport Psychology Concepts and Applications. USA: Wm. C. Brown Publishers.
Fardi, Adnan. (1999). Bola Basket Dasar. Padang: FIK UNP.
http://infoplusplus.wordpress.com. Psikologi Olahraga. Diakses tanggal 20 Januari 2013.
http://yuki24.wordpress.com. Agresi Dalam Olahraga. Diakses tanggal 20 Januari 2013.
Singgih D Gunarsa. 1989. Psikologi Olahraga. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Singer, Robert N. 1986. Peak Performance and more. New York: MP Inc.
Soedikun, Imam. (1992). Olahraga Pilihan Bolabasket. Padang: Depdikbud.
Sudibyo, Setyobroto. 1993. Psikologi Kepelatihan. Jakarta:CV Jaya Sakti.
Syaffruddin.(1999). Dasar-Dasar Kepelatihan Olahraga. Padang: FIK UNP.
Utama, bandi. 2000. Aspek Psikologis Dalam Pembinaan Atlet. Yogyakarta : FIK UNY.

Monday, March 14, 2016

MIKROTUBULUS YANG ADA DI SITOSKELETON

BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :

https://www.sumberilmu.online

https://www.sumberilmu.online/2018/11/mikrotubulus-yang-ada-di-sitoskeleton.html

Terima kasih banyak

Wednesday, March 18, 2015

STRENGTH TRAINING METHODS AND THE WORK




BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :

https://www.sumberilmuonline.com

https://www.sumberilmuonline.com/2018/12/strength-training-methods-and-work.html

Terima kasih banyak


Tuesday, March 3, 2015

Otot-Otot Pernapasan

BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :

https://www.sumberilmu.online

https://www.sumberilmu.online/2018/06/otot-otot-pernapasan-pada-tubuh-manusia.html

Terima kasih banyak

TIPE-TIPE KONTRAKSI OTOT

'Uj_Online'


BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :

https://www.sumberilmu.online

https://www.sumberilmu.online/2018/05/tipe-tipe-kontraksi-otot.html

Terima kasih banyak

Wednesday, January 29, 2014

LATIHAN DAN GLUKOKORTIKOID (KORTISOL)




BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :

https://www.sumberilmu.online

https://www.sumberilmu.online/2018/09/latihan-dan-glukokortikoid-kortisol.html

Terima kasih banyak


Wednesday, January 22, 2014

ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK

Sport_Medicine_Online



ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK




Oleh :
Aminuddin                                                     011214553004
Amir Chamdani                                            011214553009
Taufiq Widyabakti                                       011214553013
Dony Ardy Kusuma                                      011214553014

  

BAB 1
PENDAHULUAN



Korteks adrenal menghasilkan beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen adrenal. Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat dibedakan yaitu lapisan luar zona glomerulosa, merupakan tempat dihasilkannya mineralokorticoid (aldosterone), lapisan tengah zona fasciculata pada lapisan tengah, dengan tugas utama sintesis glukokortikoid, terutama diatur oleh ACTH dan lapisan dalam zona reticularis, tempat sekresi androgen adrenal (terutama dehydroepiandrostenedion (DHEA) juga glukokortikoid (kortisol and corticosteron).
Aldosteron adalah mineralokortikoid terpenting, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin. Peningkatan konsentrasi kalium yang rendah dapat menyebabkan beberapa kali peningkatan aldosterone beberapa kali. Dan juga aktivasi dari system renin-angiotensin, biasanya sebagai efek dari berkurangnya aliran darah ke ginjal, dapat menyebabkan peningkatan sekresi aldosterone yang besar. Selanjutnya Aldosteron akan bekerja di ginjal dengan membantu ginjal mengeluarkan kelebihan ion kalium, meningkatkan volume darah dan tekanan arteri, jadi mengembalikan sistem renin-angiotensin dalam keadaan normal.
Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan aldosterone pada saat beraktifitas fisik, diyakini erat kaitannya peningkatan aldosterone pada peningkatan tekanan darah dan berkurangnya volume cairan dalam darah. Ini menjadi penting untuk dibahas tentang keadaan aldosteron dikarenakan kerjanya yang mengatur keseimbangan cairan tubuh yang dimana cairan tubuh itu sendiri menjadi faktor yang penting pada saat kita melakukan aktifitas fisik.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hormon Aldosterone
Aldosterone merupakan hormone utama dari mineralkortikoid, di keluarkan oleh kelenjar adrenal bagian luar yang disebut dengan korteks adrenal.  Aldosterone termasuk dalam hormone steroid karena struktur utamanya yang terdiri dari unsur kolesterol. Hormone ini berdifusi dengan mudah ke dalam membrane sel, baik dari sel asal atau ke target organ.
Gambar 2.1 Lapisan pada adrenal korteks

Korteks adrenal terdiri atas 3 lapisan atau zona, yaitu zona glomerusa – lapisan terluar, zona fasikulata – lapisan tengah dan yang terbesar, dan zona retikularis – lapisan paling dalam. Aldosterone secara eksklusif diproduksi di zona glomerusa, semua hormone adrenol korteks bersifat lipofilik artinya diangkut ke dalam darah dalam keadaan terikat ke protein plasma terutama albumin.
2
Efek utama hormone aldosterone adalah pada keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah. tempat kerja utama aldosteron adalah di tubulus distal pada ginjal, disini hormone aldosterone akan bekerja dalam mendorong retensi pada Na+ dan meningkatkan eliminasi K+ sewaktu waktu pada saat proses pembentukan urine. oleh faktor yang berkaitan dengan penurunan Na+ dan tekanan darah serta stimulasi langsung korteks adrenal oleh peningkatan konsentrasi K+ plasma. dalam kerjanya, hormone aldosterone termasuk dalam bagian sistem renin – angiotensin – aldosterone yang meregulasi volume darah dan tekanan darah.

2.2 Sistem Renin – Angiotensin – Aldosterone
Hormon aldosterone dalam kerjanya sebagai regulator absorpsi natrium dan meningkatkan sekresi kalium. Sistem renin – angiotensin – aldosterone merupakan suatu sistem yang melibatkan hormone aldosteron, renin dan angiotensin yang berfungsi untuk mengatur tekanan darah dan volume cairan tubuh. Dalam mekanisme ini terdapat beberapa hormone diantaranya adalah :
1.      Renin :
suatu hormone enzimatik yang dikeluarkan ginjal, renin dikeluarkan ke dalam darah dalam merespon terhadap NaCl , volume cairan ekstraselular dan tekanan darah.
2.      Angiotensin :
merupakan bentukan dari angiotensinogen yang di sekresi oleh hati,  angiotensinogen akan dirubah kedalam bentuk angiotensin I oleh renin. Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi dapat bertahan lama dalam darah. Setelah itu angiontensin I akan diubah ke angiotensin II oleh angiotensin converting enzyme yang diproduksi di paru. Angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan hormone aldosterone
3.      Aldosterone :
 sebagai regulator keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah, retensi Na+ yang terjadi akibat aldosterone menimbulkan efek osmotik yang menahan lebih banyak H2O pada cairan ekstraselular.

     Mekanisme kerja dari sistem Renin – Angiotensin – Aldosteron dapat dimulai dari rangsangan penurunan volume darah (contohnya kekurangan cairan) atau tekanan darah (contohnya saat  terjadi pendarahan). Hal ini akan merangsang ginjal untuk mengsekresi renin yang akan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dan bertemu dengan angiotensinogen yang disekresi oleh hati.  angiotensin akan berubah menjadi angiotensin I setelah itu bertemu dengan Angiotensin converting enzyme (ACE) yang dihasilkan di endotel pembuluh paru yang akan berubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II akan menyebabkan beberapa efek, yaitu :

1.      Vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di artetiol yang akan meningkatkan tahanan perifer total sehingga terjadi peningkatan tekanan arteri.
2.      Menurunkan ekskresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang menyebabakan peningkatan tekanan arteri juga.
3.      Merangsang sekresi aldosteron di kelenjar adrenal yang meningkatkan reabsorpsi garam dan air oleh ginjal
4.      Dan, merangsan susunan saraf pusat untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary posterior mengeluarkan hormone vasopressin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi air dan peningkatan rangsangan simpatis untuk peningkatan curah jantung.

2.3 Hormon Aldosterone dan aktifitas fisik
Hormon aldosteron dalam kerjanya tidak terlepas dari sistem renin – angiotensin – aldosterone. Sistem Renin – Angiotensin – aldosterone mempunyai peranan utama dalam meregulasi respon fisiologis dan adaptasi dari keseimbangan cairan elektrolit sebagaimana yang terjadi pada fungsi kardiovaskular pada saat beraktifitas fisik. Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan sistem renin – angiotensin – aldosterone dan aktifitas fisik. Yang terdapat dalam literatur yang beredar adalah kadar aldosterone akan meningkat seiring dengan intensitas latihan yang dilakukan oleh sampel.

           Dalam literature oleh Buono & Staesen dikatakan bahwa peningkatan konsentrasi aldosteron terjadi secara lambat untuk 2 penyebab , yang pertama adalah adanya stimulus angiotensin II, dan yang kedua adalah respon yang meningkatkan aldosteron itu sendiri yang terjadi setelah beberapa rangkaian dalam sistem renin – angiotensin – aldosteron.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Perrault yang melakukan aktifitas fisik jangka pendek dengan intensitas 67% dari VO2max menggunan ergocycle mengatakan bahwa dengan intensitas yang tetap akan terjadi peningkatan plasma aldosteron seiring dengan durasi latihan yang semakin meningkat.

          Peningkatan juga terjadi pada konsentrasi renin dan angiotensin. Dikutip dari Scott & Edward dibuktikan bahwa terjadi peningkatan pada ketiga hormone dalam sistem sistem renin – angiotensin – aldosteron

            Pelepasan dari aldosterone pada saat beraktifitas fisik dipengaruhi dari intensitas pada saat aktifitas fisik, dalam satu penelitian oleh Penelitian oleh Montain 1997. melakukan aktifitas fisik intensitas rendah selama 20 menit, peningkatan sebanyak 12%, intensitas sedang,peningkatan sebanyak 50%, intensitaa berat, peningkatan 75% sampai 80%. Mekanisme ini nampakanya berhubungan dengan sistem saraf simpatis dan catecholamine. Aktifitas fisik menyebabkan peningkatan aktifitas simpatis – catecholamine, hal ini bisa mengakibatkan aktifnya beta adenoreceptors pada pembuluh arteri di ginjal, sehingga arteri menjadi vasokontriksi dan mengurangi aliran darah ke ginjal, hal ini mengakibatkan tekanan darah naik dan merangsang produksi renin oleh ginjal yang berujung pada meningkatnya aldosterone.
            pada aktivitas jangka pendek, konsentrasi angiotensin lebih tinggi daripada konsentrasi aldosterone dikarenakan sekresi renin pada ginjal dan pada aktivitas jangka panjang sekresi aldosterone akan lebih tinggi dibandingkan angiotensin, ini diakibatkan keseimbangan cairan tubuh yang terganggu ( dehidrasi ).



BAB 3
KESIMPULAN

            Aldosterone di sekresi oleh adrenal korteks untuk meregulasi konsentrasi Na+ dan K+ di dalam tubuh. ini dilakukan untuk menjaga homeostasis cairan dalam tubuh. dalam kerjanya. Aldosterone berhubungan dalam suatu sistem berupa sistem renin – angiotensin. Sistem gabungan ini saling berikatan satu sama lain dalam menjaga regulasi cairan dan tekanan darah dalam tubuh.
            Dalam hubungan dengan aktifitas fisik. Peningkatan baik kadar aldosteron – renin dan angiotensin sejalan dengan peningkatan pada latihan baik pada intensitas beban maupun durasi pada saat latihan. Perbedaan yang terjadi hanya pada kadar angiotensin yang lebih tinggi daripada aldosteron pada saat aktifitas jangka pendek dan pada saat beraktifitas jangka panjang, peningkatan aldosteron lebih tinggi ini dipercaya akibat ketidakseimbangan pada cairan tubuh.


DAFTAR PUSTAKA

Buono MJ. Yeager JE.1991. Increases in aldosterone precede those of cortisol during graded exercise. J. sports Med Phys Fitness.
Garret William E. 2000. Exercise and Sport Science. Lippicott Williams and wilkins.
Guyton AC and Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Elsevier Inc, Philadelphia.
Hernawati, Sistem renin-angiotensin-aldosteron : perannya dalam pengaturan tekanan darah dan hipertensi.  FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Artikel tidak dipublikasi.

H. Perrault, M. Cantin.1991. Plasma Atriopeptin response to prolonged cycling in humans. American Physiology Society

Ikawati, Zullies. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press. Yogyakarta.
Montain SJ,Laird JE. 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. 29(5):661-8.
Montain SJ, 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. (5):661-8.
Sherwood L. 2004. Human Physiology From Cells to System. 5th ed. Thomson Learning Inc, USA.




 




Sunday, January 19, 2014

METODE PEMANASAN : UNTUK ANAK DAN USIA REMAJA

Sport_Medicine_Online
ANAK DAN USIA REMAJA
Aminuddin, S.Or.,M.Kes
(Praktisi sekaligus Akademisi bidang Ilmu Kesehatan dan Olahraga)

BLOG INI SEMENTARA DALAM MAINTANANCE

JIKA INGIN DAPATKAN PENJELASAN SECARA LENGKAP
SILAHKAN KUNJUNGI BLOG DIBAWAH INI :



https://www.sumberilmu.online/2019/06/metode-pemanasan-untuk-anak-dan-usia.html

https://www.sumberilmu.online

Saturday, January 18, 2014