Friday, February 23, 2018

THE EFFECT OF ACTIVE AND PASSIVE WARMING UP ON BLOOD GLUCOSE AND LACTIC ACID BEFORE SUB-MAXIMAL PHYSICAL ACTIVITY

Sport_Medicine_Online

        1Aminudin, 2Gadis Meinar Sari and 2Choesnan Effendi

1Sport Health Science Postgraduate Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
2Physiology Department, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Abstract

Warming up is a beginning activity in exercise to prepare body physiologically and psychologically to do more heavy activity and reduce flawed risk before doing exercise or competition.
Research design is “the randomized pretest- posttest control group design”. The samples of this research are eighteen students of 21- 23 years old. The students are divided into two groups. Nine students are in active warming up group (G1) and nine students are in passive warming up group (G2). After warming up each group was given sub-maximal physical activity by paddling ergocycle by 80% HRmax. The measurement of blood glucose and lactic acid was done four times: Pre-test, immediately after warming up, 5 minutes and 30 minutes after sub-maximal physical activity.
The results showed the blood glucose (mg/dL); G1: 99,66±2,73 - 96,66±2,64 - 92,55±2,18 - 89,88±3,44. G2: 96,88±3,01 - 99,22±2,22 - 93,55±3,24 - 91,11±5,55. The blood lactic acid (mmol/dL); G1: 2,78±0,41 - 7,41±1,41 - 8,82±1,50 - 3,40 ±0,49. G2: 1,33±0,41 - 2,07±0,65 - 6,30±1,39 - 3,10 ±0,66.
There is no difference between G1 to G2 to changes in blood glucose, only an increase in blood glucose after passive warming up. Increased blood lactate after warming up in group G1 is greater than G2.



Keyword : Active warming up, passive warming up, blood glucose, blood lactid acid and sub-maximal physical activity


Wednesday, February 21, 2018

JALAN MENUJU SEHAT JASMANI DAN ROHANI

Sport_Medicine_Online
 
Aminuddin, S.Or.,M.Kes
(Praktisi dan Akademisi bidang Ilmu Kesehatan & Olahraga)

Saudaraku ????
* Apakah Engkau dalam Hidupmu merasa gelisah dan sedih, sempit dan cemas, banyak problem dan kesulitan ???
*Apakah Engkau menderita penyakit Phychis (jiwa) atau fisik yang tidak engkau temukan obatnya ???
* Apakah Engkau merasa malas melaksanakan ketaatan, dan engkau hanyut dalam syahwat dan maksiat ??
* Apakah Engkau merasa ada perubahan-perubahan negatif ???

       Dewasa Ini Banyak penyakit psychis, rohani dan fisik. Macam dan Bentuknya pun beragam dan bervariasi. Ditengah kita, mulai muncul banyak penyakit-penyakit baru yang bervariasi dan belum pernah dikenal pada masa lampau. Manusia Selalu bekerja keras mengobati Penyakit yang menimpa mereka. Biaya dan waktu mereka kerahkan. Rumah sakit dan Balai pengobatan semakin bertambah dan semakin sesak, tetapi penyakit pun kian banyak dan menyebar.
      
     Tiada Daya dan upaya kecuai atas ijin dan pertolongan Allah Swt, Pencipta Alam beserta Isinya. Semua itu atau sebagaiannya, terjadi karena kelalaian banyak orang terhadap sarana-sarana pencegahan. Dan disisi lain, tidak mengetahui cara yang benar dalam mengobati penyakit itu setelah terjadinya, terutama yang terkait dengan cara yang di syarikan yaitu ruqyah.

     Oleh karenanya saya terdorong menulis ini untuk memngingatka cara-cara pengcegahan berserta pengobatannya. Harapan saya sebagai penulis Allah Swt Berkenan menyembuhkan penyakit seluruh Umat.

      1. Penyakit Jiwa Dan Terapinya

        Kehidupan Materi saat sekarang ini, berkembang pesat hampir melampaui gambaran bayangan kita. Manusia bergantung kepada  kehidupan materi dan peradaban ini, sehingga banyak diantara mereka yang menjadikannya sebagai sumber obsesi terbesar, puncak ilmu, sumber kebahagiaan dan kesengsaraan, bahkan karenanya ia rela mempertaruhkan hidup dan matinya.
      
     Hal ini tidaklah aneh bila itu terjadi pada orang-orang yang non-muslim, karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Mereka makan dan menikmati hidup ini seperti layaknya binatang ternak, sementara api neraka tempat mereka kembali.

    Yang aneh jika kaum muslim menempuh jalan keliru dan langkah yang menyimpang ini. Mereka bergantung kepada dunia dan kesenangannya, bertikai untuk mengoleksi  serpihan dan gemerlapnya dunia, seraya menjadikannya sebagai tujuan hidup utamanya dan tujuan terbesar usahanya.

     Seakan akan mereka lupa bahwa mereka diciptakan untuk tugas yang lebih agung, yaitu menyembah kepada sang pencipta. Dunia dan seisinya, berupa kesenangan dan kelesatan dunia tidak lain hanyalah sarana mewujudkan misi tersebut.

     Oleh sebab itu harga yang harus dibayar adalah ketidak seimbangan dan ketergantungan pada dunia tersebut sangat mahal. Dan untuk itu mereka telah membayarnya dengan mengorbangkan kesehatan (saat santai), kemapanan, ketenangan, kebahagiaan, rehat, dan bahkan keselamatan mereka.

      Akibatnya banyak penyakit fisik maupun psychis yang menimpa mereka. Seperti cemas, takut, sedih, tekanan darah tinggi, diabetes meletus, struk dan sejenisnya. Ketika itulah mereka bertolak kesana kemari, didalam dan diluar negeri, menguras harta dan tenaga untuk mengobati penyakit dan penderitaan serta problem yang menimpa mereka.

       Akan teteapi usaha dan biaya besar mereka tersebut tidak membawa hasil yang dharapkan. Kesembuhan juga tak kunjung datang, sebab mereka mengobati penyakit, hanya menekankan pada satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain.

        Mereka menekankan pada aspek fisik manusia dengan komsumsi obat-obatan dan pil-pil penenang serta melakukan operasi-operasi yang sangat teliti tapi mengabaikan aspek terapi lainnya berupa iman kepada ALLAH SWT dan tidak mau membina hubungan baik dengan Allah SWt. 
          
        Terapi dengan Alquran, dengan zikir dan doa menguatkan aspek moril dan kejiwaan kepada diri manusia. Dan dengan kekuatan itu, ia akan sanggup menangkal banyak penyakit jiwa dan fisik pada dirinya, atau membebaskan diri dengan mudah bila terjangkit setelah itu.

             Oleh karena itu seseorang muslim yang memiliki iman dan taqwa, maka ia akan terbebas dari penyakit psychis. Ia akan memiliki ketenangan hati, keridhaan, kegembiraan, harapan dan optimisme, walaupun dalam sisi kehidupan lainnya yang bersifat materi megalami kekurangan atau mengalami problem sosia atau masalah lain yang tidak seorangpun terbebas padanya.

           Dari sisi lain, ketika tertimpa suatu penyakit, ia pertama-tama megobatinya dengan obat keimanan yang disyariatkan Allah, yang diambilnya dari kitab ALLah dan sunnah Rasulnya, kemudian obat-obatan dan terapi medis yang diperkenankan Allah dan terbukti manfaat dan pengaruhnya. Dengan memadukan dua obat tersebut, ia memperoleh keselamatan dunia dan pahala akhirat sesuai ijin Allah Swt. 

        Oleh karena itu, kita sangatlah memerlukan penguatan aspek imani, agar kita bisa hidup dengan keamanan dan kedamaian jiwa, serta kebahagiaan dan ketengangan hati. Beberapa penuturan dari kalangan yang merasa hidup nikmat mengatakan : "Kalau para raja dan anak-anak raja mengetahui kebahagiaan yang kami rasakan, tentu mereka akan merebutnya dari kami dengan pedang".

        Hal ini menguatkan kajian ilmiah kontemporer disejumlah negara barat yang tidak bisa dibeberkan secara satu persatu dan membenarkan apa yang ditegaskan para ulama tedahulu, bahwa keadaan jiwa yang stabil dan iman yang kuat pada diri seseorang akan banyak membantunya ukan hanya dalam hal mengatasi penyakit-penyakit jiwa dan mendatangkan rasa bahagia dan ceria saja, melainkan jug dalam mengatasi gangguan -gangguan kesehatan anggota tubuh. 

             Maka atas dasar inilah, cara pencegahan dan penyembuhan penyakit itu melalui dua tahapan :
Pertama : Tahapan penjagaan dan pencegahan. Inilah yang llebih penting dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah, tua dan muda. Ini wajib mendapatkan perhatian, hanya karena dengan ijin Allah Swt dapat membantu menangkal timbulnya penyakit. Pepatah Mengatakan : "Mencegah lebih baik darpada megobati ".
Kedua :  Tahapan Pengobatan, yaitu untuk menghilangkan dan mengobati penyakit setelah munculnya, dengan cara yang dikenal dengan ruqyah Syar iyah.

(Ringkasan dari Buku : Jalan Menuju Sehat JASMANI & ROHANI melalui Ruqyah Syar Iyah.)
(Karya Abdullah Bin Abdul Aziz Al Aidan)

Insya Allah...........Bersambung...........

Tuesday, February 20, 2018

SUMBER ENERGI DI OTOT

Sport_Medicine_Online










Materi Kuliah IKESOR 2012 Dep. Faal FK UNAIR : Sistem Energi (Sumber Energi Otot). 
Semoga Bermanfaat


Sunday, February 18, 2018

Apa itu VO2MAX ???

Sport_Medicine_Online

            Apa itu Vo2Max
Kebugaran dapat diukur dengan volume oksigen yang dapat dikonsumsi selama berolahraga pada kapasitas maksimum.
VO2max adalah jumlah maksimum oksigen dalam mililiter, yang dapat menggunakan dalam satu menit per kilogram berat badan.
Mereka yang bugar memiliki nilai VO2max lebih tinggi dan bisa latihan lebih intens daripada mereka yang tidak. Banyak studi menunjukkan bahwa Anda dapat meningkatkan VO2max Anda dengan bekerja diatas intensitas yang meningkatkan detak jantung Anda menjadi antara 65 dan 85% dari maksimum setidaknya selama 20 menit tiga sampai lima kali seminggu. Nilai rata-rata VO2max untuk atlet pria adalah sekitar 3,5 liter / menit dan untuk atlet wanita itu adalah sekitar 2,7 liter / menit. 

Faktor yang mempengaruhi VO2max.
1.      Keterbatasan fisik yang membatasi tingkat di mana energi dapat dilepaskan aerobik tergantung pada: Kemampuan kimia dari sistem jaringan otot selular untuk menggunakan oksigen di kelebihan bahan bakar 
2.      Kemampuan gabungan dari sistem kardiovaskular dan paru untuk mengangkut oksigen ke sistem jaringan otot.
3.      VO2max 
Ada banyak faktor fisiologis yang menggabungkan berbagai  cara untuk menentukan VO2max yang menghasilkan dua teori:
a.        Teori Pemanfaatan dan Teori Presentasi. 
Pemanfaatan teori menyatakan bahwa VO2max ditentukan oleh kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen yang tersedia sedangkan Teori Presentasi mempertahankan s kemampuan sistem kardiovaskular tubuh untuk mengantarkan oksigen ke jaringan aktif. 
Sebuah studi oleh Saltin dan Rowell (1980) [3] menyimpulkan bahwa pengiriman oksigen ke jaringan aktif yang merupakan faktor pembatas utama untuk VO2max. Sebuah studi oleh Gollnick dkk. (1972) [4] menunjukkan hubungan yang lemah antara kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen yang tersedia dan VO2max. 
b.      VO2max untuk berbagai kelompok.
Tabel di bawah ini, diadaptasi dari Wilmore dan Costill (2005) [2], data normatif detail untuk VO2max (ml / kg / menit) pada kelompok penduduk yang beragam. 
Non Athletes
Age
Male
Female
10-19
47-56
38-46
20-29
43-52
33-42
30-39
39-48
30-38
40-49
36-44
26-35
50-59
34-41
24-33
60-69
31-38
22-30
70-79
28-35
20-27
Athletes
Sport
Age
Male
Female
Baseball
18-32
48-56
52-57
Basketball
18-30
40-60
43-60
Cycling
18-26
62-74
47-57
Canoeing
22-28
55-67
48-52
Football (USA)
20-36
42-60
Gymnastics
18-22
52-58
35-50
Ice Hockey
10-30
50-63
Orienteering
20-60
47-53
46-60
Rowing
20-35
60-72
58-65
Skiing alpine
18-30
57-68
50-55
Skiing nordic
20-28
65-94
60-75
Soccer
22-28
54-64
50-60
Speed skating
18-24
56-73
44-55
Swimming
10-25
50-70
40-60
Track & Field - Discus
22-30
42-55
Track & Field - Running 
18-39
60-85
50-75
Track & Field - Running 
40-75
40-60
35-60
Track & Field - Shot
22-30
40-46
Volleyball
18-22
40-56
Weight Lifting
20-30
38-52
Wrestling
20-30
52-65

Athlete's Vo2max Scores
The following are the Vo2max scores for a selection of the top female and male athletes.
VO2max (ml/kg/min)
Athlete
Gender
Sport/Event
96.0
Espen Harald Bjerke
Male
Cross Country Skiing
96.0
Bjorn Daehlie
Male
Cross Country Skiing
92.5
Greg LeMond
Male
Cycling
92.0
Matt Carpenter
Male
Marathon Runner
92.0
Tore Ruud Hofstad
Male
Cross Country Skiing
91.0
Harri Kirvesniem
Male
Cross Country Skiing
88.0
Miguel Indurain
Male
Cycling
87.4
Marius Bakken
Male
5K Runner
85.0
Dave Bedford
Male
10K Runner
85.0
John Ngugi
Male
Cross Country Runner
73.5
Greta Waitz
Female
Marathon runner
71.2
Ingrid Kristiansen
Female
Marathon Runner
67.2
Rosa Mota
Female
Marathon Runner

c.       VO2max dan usia 
Seiring dengan bertambahnya umur VO2max juga akan menurun. Sebuah studi oleh Jackson et al. (1995) [5] menemukan penurunan rata-rata adalah 0,46 ml / kg / menit per tahun untuk pria (1,2%) dan 0,54 ml / kg / menit untuk perempuan (1,7%). Penurunan tersebut adalah karena sejumlah faktor termasuk pengurangan detak jantung maksimum dan volume stoke maksimum.

d.      VO2max dan kinerja 
VO2max sendiri adalah prediktor buruk dari kinerja tetapi menggunakan kecepatan (vVO2max) dan durasi (tlimvVO2max) yang seorang atlet dapat beroperasi pada VO2max mereka akan memberikan indikasi yang lebih baik kinerja.

e.       tes  VO2max evaluasi
Perkiraan VO2max Anda dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari tes berikut:

1. Uji 2.4 km Run 
·         Astrand Treadmill test - VO2max tes berjalan di treadmill 
·         Astrand 6 menit Siklus tes - tes VO2max pada sepeda statis 
·         Balke VO2max test - cocok untuk olahraga ketahanan 
·         Balke Tambahan treadmill protokol uji-uji VO2max di treadmill (tes pria dan wanita) 
·         Bruce Tambahan treadmill protokol uji-uji VO2max di treadmill (tes pria dan wanita) 
·         Cooper VO2max uji - cocok untuk olahraga daya tahan 
·         Conconi tes 
·         Kecepatan Berenang Kritis - ukuran kapasitas aerobik perenang 
·         Home Step Test - tes langkah Anda dapat melakukan di rumah 
·         Harvard Step Test - ukuran kebugaran kardiovaskular 
·         Multistage Fitness Test atau Bleep test - VO2max tes untuk olahraga ketahanan 
·         Queens College Step Test - VO2max tes 
·         Rockport Kebugaran tes berjalan - VO2max tes 
·         Tecumseh Langkah Test - ukuran dari kebugaran kardiovaskular 
·         Treadmill VO2max test - VO2max tes 
·         VO2max dari non-latihan data - VO2max tes 
·         VO2max dari jogging satu mil 
·         VO2max dari hasil lomba (waktu untuk jarak jauh) 
·         VO2max Langkah Uji 
·         Kursi roda VO2max Uji

f.       Meningkatkan VO2max Anda 
Berikut ini adalah contoh Astrands (a fisiologi kerja) latihan untuk meningkatkan pengambilan oksigen: 
1.      Jalankan pada kecepatan maksimum selama 5 menit. Perhatikan jarak yang ditempuh dalam waktu itu. Mari kita berasumsi bahwa jarak yang dicapai adalah 1.900 meter. Istirahat selama lima menit, dan kemudian jalankan jarak (1900 meter) 20% lebih lambat, dengan kata lain dalam enam menit, dengan istirahat 30 detik, diulang berkali-kali. Ini sama dengan kecepatan 10 Km Anda 
2.      Jalankan pada kecepatan maksimum selama empat menit. Perhatikan jarak yang ditempuh dalam waktu itu. Beristirahat selama empat menit. Dalam hal ini, kami akan menganggap Anda berlari dengan jarak 1500 meter. Sekarang jalankan jarak yang sama 15% lebih lambat, dengan kata lain dalam 4 menit 36 ​​detik, dengan 45 sisa detik, diulang beberapa kali. Ini kurang lebih setara dengan waktu antara 5 Km atlet dan 10 Km waktu.
3.      Jalankan pada upaya maksimum selama tiga menit. Perhatikan jarak yang ditempuh dalam waktu itu. Jarak yang ditempuh adalah, katakanlah 1000 meter. Proses berurutan pada jarak yang diambil 10% lebih lambat atau 3 menit 18 detik, dengan 60 sisa detik, diulang beberapa kali. Hal ini mendekati dengan 5 Km waktu Anda 
4.      Jalankan pada upaya maksimum selama lima menit. Perhatikan jarak yang ditempuh dalam waktu itu. Jarak yang ditempuh adalah 1.900 meter. Istirahat lima menit. Jarak ini sekarang ditutupi 5% lebih lambat dengan satu dan istirahat setengah menit. Ini adalah kecepatan sekitar 3K untuk Anda, yaitu, lima menit 15 seconds/1900 meter.
5.      Jalankan pada upaya maksimum untuk tiga menit. Jarak yang ditempuh adalah 1100 meter. Ketika pulih, atlet kemudian berjalan jarak yang sama 5% lebih lambat, yaitu, tiga menit sembilan seconds/1100 meter, dengan satu menit istirahat, beberapa kali diulang. Ini adalah kecepatan pada 3 Km.

g.      Kapan dan seberapa sering  ??
Disarankan bahwa dalam sesi musim dingin (1) dan (2) dilakukan mingguan, dan dalam sesi musim trek (3), (4) dan (5) dilakukan mingguan melalui pelari dari 800 meter ke maraton setengah. Meskipun akan nyaman untuk menggunakan tanda jarak asli yang dibuat oleh upaya durasi, ini tidak memperhitungkan kondisi atlet sebelum setiap sesi, sehingga berjalan secara maksimal harus dilakukan pada setiap kesempatan ketika mereka mungkin baik lebih atau kurang dari jarak sebelumnya dijalankan. Upaya durasi maksimal dalam diri mereka sendiri sesi kualitas. Jika denyut nadi belum pulih sampai 120 denyut per menit di waktu istirahat yang diberikan, periode pemulihan harus diperpanjang sebelum pengulangan dimulai. Waktu pemulihan antara pengulangan harus benar-benar ditaati. Latihan ini membuat perubahan menyegarkan dari berjalan pengulangan. Ketika semua lima sesi selesai dalam waktu satu bulan, pengalaman menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam kinerja. 

h.      Pengaruh ketinggian 
VO2 max menurun dengan meningkatnya ketinggian di atas 1600m dan 1000m di atas untuk setiap pengambilan oksigen maksimal 1600m menurun sekitar 8-11%. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan curah jantung maksimal (produk dari denyut jantung dan stroke volume). Volume Stoke menurun karena penurunan volume darah langsung dalam plasma. 

i.        Penilaian VO2max
Penilaian VO2max didasarkan pada tabel VO2max Cooper dan terdiri dari nilai berikut: Sangat Miskin, Miskin, Adil, Baik, Excellent dan Superior. Untuk evaluasi VO2max Anda pilih kelompok usia dan jenis kelamin, masukkan VO2max Anda dan kemudian pilih Normatif data (Heywood 1998) [6] untuk (nilai dalam ml / kg / menit).

Normative data for VO2max
Normative data (Heywood 1998)[6] for Female (values in ml/kg/min)
Age
Very Poor
Poor
Fair
Good
Excellent
Superior
13-19
<25.0
25.0 - 30.9
31.0 - 34.9
35.0 - 38.9
39.0 - 41.9
>41.9
20-29
<23.6
23.6 - 28.9
29.0 - 32.9
33.0 - 36.9
37.0 - 41.0
>41.0
30-39
<22.8
22.8 - 26.9
27.0 - 31.4
31.5 - 35.6
35.7 - 40.0
>40.0
40-49
<21.0
21.0 - 24.4
24.5 - 28.9
29.0 - 32.8
32.9 - 36.9
>36.9
50-59
<20.2
20.2 - 22.7
22.8 - 26.9
27.0 - 31.4
31.5 - 35.7
>35.7
60+
<17.5
17.5 - 20.1
20.2 - 24.4
24.5 - 30.2
30.3 - 31.4
>31.4

Normative data (Heywood 1998)[6] for Male (values in ml/kg/min)
Age
Very Poor
Poor
Fair
Good
Excellent
Superior
13-19
<35.0
35.0 - 38.3
38.4 - 45.1
45.2 - 50.9
51.0 - 55.9
>55.9
20-29
<33.0
33.0 - 36.4
36.5 - 42.4
42.5 - 46.4
46.5 - 52.4
>52.4
30-39
<31.5
31.5 - 35.4
35.5 - 40.9
41.0 - 44.9
45.0 - 49.4
>49.4
40-49
<30.2
30.2 - 33.5
33.6 - 38.9
39.0 - 43.7
43.8 - 48.0
>48.0
50-59
<26.1
26.1 - 30.9
31.0 - 35.7
35.8 - 40.9
41.0 - 45.3
>45.3
60+
<20.5
20.5 - 26.0
26.1 - 32.2
32.3 - 36.4
36.5 - 44.2
>44.2






Sumber Referensi :

1)      Swain et al (1994) Sasaran SDM untuk pengembangan CV kebugaran. Kedokteran & Ilmu Olahraga & Latihan, 26 (1), hal. 112-116 

2)      Wilmore, J.H. dan COSTILL, D.L. (2005) Fisiologi Olahraga dan Latihan. 3rd ed. Champaign, IL: Kinetika Manusia 

3)      SALTIN, B. dan Rowell, L.B. (1980) Fungsional adaptasi untuk aktivitas fisik dan aktivitas. Federasi Prosiding. 39 (5), hal. 1506-1513.

4)      GOLLNICK, P.D. et al. (1972) aktivitas enzim dan komposisi serat dalam otot rangka laki-laki yang tidak terlatih dan terlatih. J Appl Physiol, 33. (3), hal. 312-319.

5)      JACKSON, A.S. et al. (1995) Perubahan daya aerobik laki-laki, usia 25-70 tahun. Med Sci Olahraga Exerc, 27. (1), hal. 113-120

6)      Heywood, V. (1998) Spesialis Kebugaran Fisik Sertifikasi Manual, Lembaga Penelitian Cooper Aerobics, Dallas TX, direvisi 1997. In: Heywood, V (1998) Uang Muka Kebugaran Penilaian & Resep Latihan, 3rd Ed. Leeds: Kinetika Manusia. hal. 48

Halaman Referensi :
Referensi untuk halaman ini adalah: 
Mackenzie, B. (2001) VO2max [WWW] Tersedia dari: http://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm [Diakses:2012/09/07]